Subscribe:

Wednesday, August 31, 2016

YPSIM Sekolah Multikultural

Gedung YPSIM sumber : ypsim.sch.id

     YPSIM adalah kepanjangan dari Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda. Yayasan ini didirikan tanggal 25 Agustus 1987, tepatnya tanggal 22 Agustus 1988 yayasan ini diresmikan oleh Kakanwil Depdikbud Sumatera Utara Drs. Soewono. Perguruan ini mengambil nama Pahlawan Aceh sekaligus Sultan pertama Aceh yang menjalin dagang dengan negeri China (saat itu).
Saat awal dibuka Juli 1988, antusias warga cukup tinggi, menurut data yang dimiliki sekolah, total yang mendaftar dan diterima masuk sebanyak 171 orang yaitu murid Taman Kanak-Kanak sebanyak 34 orang ( 16orang Tioinghoa dan 18 orang non-Tionghoa) , Sekolah dasar 42 orang ( 32 orang Tionghoadan 10 non Tionghoa), Sekolah Menengah Pertama 50 orang ( 21 orang Tionghoa dan 29 orang non-Tionghoa). Sungguh menakjubkan dengan kondisi keberagaman yang sangat heterogen serta berimbang untuk sekolah yang baru saja dibuka.
Gambar Dr. Sofyan Tan didepan sekolah diambil dari tempo.co
                          
Yayasan ini diidirikan oleh Dr. Sofyan Tan, anak yang lahir dari pasangan Tan A Guan dan Lie Giok Hoa tanggal 25 September 1959 di Sunggal, Kabupaten Deli Serdang dengan nama Tan Kim Yang . Belia mendirikan sekolah ini terinspirasi dari ayahnya. 
      Tepatnya 10 November 1966, terjadi kerusuhan di Sunggal. Saat orang-orang Tionghoa dirampas, dibakar rumahnya bahkan terjadi pembunuhan serta teriak isak tangis dimana-mana, hal ini dilakukan oleh sekelompok massa yang ingin membunuh orang Tionghoa, yang saat itu diidentikkan bahwa semua orang Tionghoa adalah komunis . Padahal kebanyakan warga Sunggal saat itu adalah kaum yang pro- Taiwan atau Anti Komunis . Namun berbeda dengan rumah Tan A Guan atau Hisar yang lebih dikenal masyarakat, massa datang dan ingin menghancurkan rumahnya, tapi datang sekelompok pemuda non Tionghoa menahan dan berkata,"Diaitu orang kita".Akhirnya massa tersebut membatalkan niat mereka.Bersyukur saat itu mereka selamat.
      Bahkan saat ayah Dr. Sofyan Tan meninggal banyak orang datang melayat , dari beragam agama. Ayat-ayat suci al-quranpun ikut terdengar dan doa-doa dari para pelayat menaikkan mohon kepada Tuhan . Ayahnya Hisar dikenal sangat baik, akrab serta berbaur dengan siapa saja, bahkan beliau tidak mau membangun tembok dalam berhubungan siapapun, semua agama, suku, golongan, status sosial belia temani, asal orang itu baik .Ayahnya pun mendapat julukan "Orang Tionghoa yang membaur"
     Satu hal yang Pak Sofyan ingat dari ayahnya adalah "Kita lahir dan mati di Indonesia,kamu harus dapat meng-Indonesia-kan diri.Buatlah yang terbaik untuk bangsa dan negara ini" Selain itu beliau sewaktu kecil sangat sulit untuk bersekolah, dia harus naik truk pasir supaya tidak bayar ongkos, beliau juga tinggal dirumah yang beralaskan tanah, apalagi saat itu ayahnya bekerja sebagai tukang jahit yang secara ekonomi masih sulit dan banyak juga diskriminasi yang dialami beliau.
     Karena itulah Beliau terinspirasi untuk mendirikan sekolah ini ,dia ingin "membalas dendam" dengan positif.Dr.Sofyan Tan tidak ingin anak-anak lain mengalami hal yang seperti yang dialami beliau. 
keberagaman siswa yang terdiri dari berbagai macam suku diambil dari dokumen sekolah

    Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda yang didirikan belia berdiri dengan fondasi keberagaman sehingga hal inilah yang terus dipupuk beliau agar sekolah ini tetap kokoh berdiri . Bahkan saat awal berdirinya ide tentang keberagaman ini dianggap gila  oleh banyak orang karena dianggap mustahil untuk dilakukan . Namun hal ini sudah terbukti dengan kiprah beliau , siswa dari berbagai agama, suku, ras, dan golongan dapat mendaftar disekolah ini . Walalupun sekolah ini didirikan oleh orang Tionghoa bukan berarti kondisi ini membuat mayoritas siswa adalah orang Tionghoa, tapi yang ada kondisi disekolah ini sangat beragam .Siswa-siswi yang ada berasal dari berbagai macam suku ada suku Batak, sukuJawa, Tamil, Benggali, Tionghoa dan suku lainnya.
siswa-siswi yang terdiri dari berbagai macam suku diambil dari dokumen sekolah

       Tempat duduk siswa juga tidak boleh sesama suku melainkan harus berbeda gama dan suku, tujuannya adalah untuk menghilangkan rasa curiga antar siswa. Bahkan para guru sekalipun juga berasa dari berbagai suku. Yayasan ini memiliki filosofi pohon yang diwakilkan oleh pohon bisbul yang ditanam di tengah-tengah rumah ibadah yang dibangun disekolah . Disekitaran pohon bisbul dibagun kursi keramik yang memiliki berbagai warnah yang melambangkan keberagaman. Pohon tersebut melambangkan bahwa walaupun pohon dapat menghasilkan oksigen melalui proses fotosintesis namu dia tidak dapat memilih orang dari suku apa, dari agama apa, agama ini dan itu, tetapi semua orang dari berbagai ras, agama, suku dan bangsa dapat menghirup oksigen yang dihasilkannya.
Vihara di YPSIM sumber : ypsim.sch.id

       Tidak ada orang yang mau dilahirkan jadi suku apa, sehingga kita harus terima satu sama lain. Disekolah ini juga dibagun masjid untuk agama islam, vihara untuk agama buddha, pura yang baru saja selesai dibangun Agustus 2016 untuk agama Hindu dan gereja untuk agama kristen . Pembiayaannya sukarela diberikan oleh siswa, orangtua siswa  serta para donatur.
Gereja di YPSIM sumber : ypsim.sch.id

           Bahkan Pak Anis Baswedan , mantan Mendikbud Republik Indonesia berkata "Di salah satu bagian sekolah saya melihat masjid, gereja, dan vihara berada dalam satu komplek. Saya melihat beberapa siswa beraktivitas di masing-masing rumah ibadah. Mereka juga saling berinteraksi. Beberapa mengobrol, beberapa bermain di sekitar lokasi tersebut. Kegiatannya barangkali terkesan biasa saja, tapi interaksi antara mereka adalah cermin kedewasaan negeri ini. Sebuah cermin bahwa perbedaan bukan menjadi masalah, perbedaan adalah sebuah fakta. saat ini."
Masjid di YPSIM sumber : ypsim.sch.id


     Disekolah ini juga saat upacara harus dipimpin doa dengan tiap agama.Kegiatan keagamaan juga diadakan tiap agama mulai dari Maulid Nabi, Imlek, Dephavali, Idul Fitri, Natal, dan sebagainya.
     Yayasan ini juga memiliki program anak asuh silang dan berantai , program ini sempat dianggap gila oleh Ir. Sarwono Menteri PAN, era Soeharto. Namun ini merupakan kabar baik bagi mereka yang ingin bersekolah. Program ini dimulai tahun 1989. Lewat program ini, siswa miskin yang memiliki minat tinggi untuk belajar akan dicarikan orangtua asuh. Sistemnya silang, tujuannya agar menghilangkan rasa curiga atau sentimen antar suku Contohnya jika seorang anak asuh yang berasal dari suku jawa mendapatkan orangtua asuh dari suku Tionghoa akan merubah pola pikirnya bahwa tidak semua orang Tionghoa itu pelit . 
    Sejak semula diluncurkan sampai sekarang sudah hampir 3326 anak asuh yang bersekolah di YPSIM.Dan diharuskan bagi siswa yang telah lulus dan berhasildi masyarakat untuk mengambil anak asuh yang lain juga.
Grafik Jumalah Anak suh 1990-2016

   Pak Habibie dalam pidatonya tanggal 11 Juli 1994 berkata ,"Hati saya bergetar menyaksikan apa yang diperjuangkan Sofyan. Terimakasih Sofyan, saya ucapkan selamat. Tanpa mengenal lelah, Anda terusberkorban, yang anda lakukan benar-benar kerja seorang putra bangsa" Betul sekali banyak dampak yang diberikan YPSIM untuk Indonesia, ini merupakan inovasi daerah yang sangat mendunia. Tahun 2007 tanggal 20 Mei Pak Sofyan juga diundang untuk mempresentasikan pengalamannya mengelola sekolah YPSIM dalam sebuah simposium " The Alliance of Civiliazation" di Auckland, Selandia Baru, hal ini bermula karena YPSIM ini diamati oleh kedubes Selandia Baru dan mengirimkan wakilnya David Strachan untuk meninjau langsung, tak hanya meninjau bahkan dia mengambil 2 anak asuh disekolah ini .
   Pak Habibie juga menyatakan kesetujuannya dengan program anak asuh bersifat silang ini," Sekedar tanda perhatian saya dan keluarga terhadap perjuangan Anda. Mungkin diantara mereka bakal ada profesor atau gubernur. Kalau tidak diberi peluang untuknya, harapan itu mustahil terwujud. Konsep dan pendekatan Sofyan perlu dkembangkan , didukung serta dibantu . Program ini agar dimasyarakatkan disemua sekolah."
    Kiranya ini menjadi kabar baik bagi saudara semua 


Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahku - https://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku