Labels

Cerita Non Fiksi dan Cerita Fiksi

A. Cerita non fiksi adalah cerita yang bukan rekaan,dengan kata lain disebut juga cerita nyata atau cerita ilmiah,bagaimana cara menentukkan,apak sebuah cerita fiksi atau cerita non fiksi?Judul-judul cerita non fiksi misalnya:
  1.  Manfaat apotik hidup
  2.  Rajin pangkal pandai
  3.  Perjalan ke Surabaya
  4.  Cara belajar yang baik
B. Cerita fiksi ialah cerita rekaan atau hayalan oleh karena jangan heran kalau dalam cerita fiksi seekor semut atau harimau bisa berbicara.Disamping itu cerita fiksi hanya cerita rekaan belaka dari pengarangnya,walaupun demikian seringkali kalian membaca cerita fiksi itu seperti cerita nyata.
Judul-judul cerita fiksipun beragam,tetapi selau dapat kita tebak.
Contoh cerita fiksi adalah :
  1. Ketika matahari terbit
  2. Guruku
  3. Hujan diawali Desember
  4. Sejak ibu meninggal
  5. Raja dan kudanya
  6. Kancil dan buaya

Pengertian Prosa

     Prosa ialah karangan bebas,maksudnya tidak terikat oleh ikatan-ikatan yang terdapat dalam puisi.Jenis-jenis prosa ditinjau dari zamannya,prosa bisa di golongkan kedalam prosa lama dan prosa baru.
      Prosa lama ialah prosa yang sudah ada sejak zaman dahulu.
Contohnya adalah :


  1. Dongeng ialah cerita yang tidak benar-benar terjadi,kebanyakan dongeng berkaitan dengan cerita-cerita aneh pada zaman dahulucontoh cerita dongeng adalah Malin Kundang,Lutung Kasarung,Bawang Merah dan Bawang Putih.
  2. Legenda adalah cerita rakyat zama dahulu yang berkaitan dengan peristiwa ata asal-usul suatu tempatcontoh cerita legenda adalah Sangkuriang,Batu Menangis.
  3. Fabel ialah cerita yang menggambarkan watak serta budi manusia dan pelakunya diperankan oleh binatang-binatang contoh cerita fabel adalah Sikura-kura dan Si Monyet.
  4. Mitos adalah cerita suatu bangsa tentang dewa-dewi atau pahlawan zaman dahulu yang mengandung penafsiran asal-usul alam semsta,manusia,serta bangsa itu sendiri.Contoh mitos adalah Dewi Sri,Nyi Roro Kidul.
Prosa Baru ialah prosa yang diciptakan pada masa sekarang,prosa ini diketahui langsung pemiliknya.Prosa Baru meliputi:
  1. Novel adalah karangan prosa yang panjang yakni mengandung susunan cerita kehidupan seseorang dengan orang-orang disekitarnya dengan menonjolkan watak serta sifat setiap pelakunya.
  2. Cerpen ialah karangan prosa pendek,karangan ini memberikan kesan tunggal yang dominan serta memusatkan diri pada suatu tokoh dalam satu situasi.
  3. Roman adalah karangan prosa yang menceritakan perbuatan pelakunya menurut watak dan jiwanya masing-masing,karangan roman lebih panjang daripada novel
  4. Biografi ialah buku yang memuat riwayat hidup seseorang tokoh yang ditulis oleh orang lain.


Mengenal Kalimat Tanya

   Kalimat tanya adalah kalimat yang mengandung sesuatu permintaan agar kita diberi tahu sesuatu karena kita tidak mengetahui sesuatu hal.Dan disamping itu kita juga perlu mengetahui tentang ciri-ciri kalimat tanya.
Ciri-ciri kalimat tanya:

  1. Diakhiri dengan tanda baca tanya yaitu (?)
  2. Intonasi naik
  3. Menggunakan kata-kata tanya seperti siapa,mengapa,berapa,bagaimana,kapan,kemana,bilamana.
  4. Membutuhkan jawaban
  5. Menggunakan partikel kah
    Contoh:
    a.Siapakah nama anak itu?
    b.Bolehkah dia mengerjakannya?
    c.Sudahkah kamu mengerjakan tugasmu?
    d.Kapankah dia datang?
    e.Jadikah harga BBM naik ?

Asal Usul nama Pulau Sumatera

Asal Usul nama Pulau Sumatra
  
    Nama asli Sumatera, sebagaimana tercatat dalam sumber-sumber sejarah dan cerita-cerita rakyat, adalah “Pulau Emas”. Istilah pulau ameh (bahasa Minangkabau, berarti pulau emas) kita jumpai dalam cerita Cindur Mata dari Minangkabau. Dalam cerita rakyat Lampung tercantum nama tanoh mas untuk menyebut pulau Sumatera. Seorang musafir dari Cina yang bernama I-tsing (634-713), yang bertahun-tahun menetap di Sriwijaya (Palembang sekarang) pada abad ke-7, menyebut Sumatera dengan nama chin-chou yang berarti “negeri emas”.

Dalam berbagai prasasti, Sumatera disebut dengan nama Sansekerta: Suwarnadwipa (“pulau emas”) atau Suwarnabhumi (“tanah emas”). Nama-nama ini sudah dipakai dalam naskah-naskah India sebelum Masehi. Naskah Buddha yang termasuk paling tua, Kitab Jataka, menceritakan pelaut-pelaut India menyeberangi Teluk Benggala ke Suwarnabhumi. Dalam cerita Ramayana dikisahkan pencarian Dewi Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke Suwarnadwipa.

Para musafir Arab menyebut Sumatera dengan nama Serendib (tepatnya: Suwarandib), transliterasi dari nama Suwarnadwipa. Abu Raihan Al-Biruni, ahli geografi Persia yang mengunjungi Sriwijaya tahun 1030, mengatakan bahwa negeri Sriwijaya terletak di pulau Suwarandib. Namun ada juga orang yang mengidentifikasi Serendib dengan Srilangka, yang tidak pernah disebut Suwarnadwipa.

Lalu dari manakah gerangan nama “Sumatera” yang kini umum digunakan baik secara nasional maupun oleh dunia internasional? Ternyata nama Sumatera berasal dari nama Samudera, kerajaan di Aceh pada abad ke-13 dan ke-14. Para musafir Eropa sejak abad ke-15 menggunakan nama kerajaan itu untuk menyebut seluruh pulau.

Peralihan Samudera (nama kerajaan) menjadi Sumatera (nama pulau) menarik untuk ditelusuri. Odorico da Pardenone dalam kisah pelayarannya tahun 1318 menyebutkan bahwa dia berlayar ke timur dari Koromandel, India, selama 20 hari, lalu sampai di kerajaan Sumoltra. Ibnu Bathutah bercerita dalam kitab Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) bahwa pada tahun 1345 dia singgah di kerajaan Samatrah. Pada abad berikutnya, nama negeri atau kerajaan di Aceh itu diambil alih oleh musafir-musafir lain untuk menyebutkan seluruh pulau.

Pada tahun 1490 Ibnu Majid membuat peta daerah sekitar Samudera Hindia dan di sana tertulis pulau Samatrah. Peta Ibnu Majid ini disalin oleh Roteiro tahun 1498 dan muncullah nama Camatarra. Peta buatan Amerigo Vespucci tahun 1501 mencantumkan nama Samatara, sedangkan peta Masser tahun 1506 memunculkan nama Samatra. Ruy d’Araujo tahun 1510 menyebut pulau itu Camatra, dan Alfonso Albuquerque tahun 1512 menuliskannya Camatora. Antonio Pigafetta tahun 1521 memakai nama yang agak ‘benar’: Somatra. Tetapi sangat banyak catatan musafir lain yang lebih ‘kacau’ menuliskannya: Samoterra, Samotra, Sumotra, bahkan Zamatra dan Zamatora.

Catatan-catatan orang Belanda dan Inggris, sejak Jan Huygen van Linschoten dan Sir Francis Drake abad ke-16, selalu konsisten dalam penulisan Sumatra. Bentuk inilah yang menjadi baku, dan kemudian disesuaikan dengan lidah kita: Sumatera