Subscribe:

Sunday, October 6, 2013

7 Jurus Menulis Resensi Buku

Meresensi ialah menulis ihwal sebuah buku. Kita menimbang isi buku, memberikan uraian, mengajukan kritik, pujian, dan mengulas konteks yang sesuai dengan isi buku. Dibandingkan dengan menulis artikel opini, menulis resensi bisa dibilang lebih mudah. Mengapa? Sebab, objek yang akan kita tulis itu sebelumnya dibaca. Dengan demikian, keseluruhan naskah yang kita buat berasal dari pembacaan kita atas isi buku.
Hampir semua media cetak dan majalah, punya rubrik resensi. Umumnya hadir setiap hari Sabtu dan Minggu. Di situlah setiap penulis bersaing mengirimkan karya resensi terbaiknya. “Jurus ampuh” di bawah ini semoga membantu buat kita yang hendak meresensi buku.
Pertama, beli buku, jangan pinjam
Seorang teman berkata, orang paling bodoh sedunia adalah mereka yang senang meminjamkan buku. Usut punya usut, buku teman ini banyak tak kembali setelah lama dipinjam sejawat yang lain. Saya sependapat. Kalau hendak meresensi, beli, jangan pinjam. Dengan membeli, koleksi buku kita bertambah. Saat kita hendak menggunakan, tinggal ambil di lemari perpustakaan pribadi. Kalau meminjam, pasti repot. Mau membaca, mesti meminjam. Apalagi kalau dipinjam untuk diresensi, lebih ruwet lagi. Jadi, belilah buku. Itu investasi buat kita. Buku adalah gudang ilmu kalau kita membacanya.
Kedua, membaca seluruh buku
Peresensi yang baik selalu membaca semua naskah di dalam buku. Dengan membaca seluruhnya, kita akan mendapatkan gambaran yang utuh tentang isi buku. Kesimpulan buku bisa kita buat karena kita memahami perpaduan antarbab.
Mau meresensi tanpa mengkhatamkan bacaan? Saya sarankan jangan. Justru kenikmatan kita yang pertama ialah saat kita menikmati baris demi baris, kata per kata, kalimat per kalimat, sebelum kita meresensi. Dengan membaca utuh, kita bisa meresensi dengan baik. Semua hal dalam buku bahkan kita ceritakan ulang dengan gaya bahasa sendiri.
Ketiga, menandai bagian yang penting
Buku yang baik itu tak mesti mulus terus. Kadang kita mesti memberinya dengan tanda khusus, bisa dengan bolpoin atau spidol. Bagian yang penting kita tandai dengan stabilo. Bisa juga dengan menuliskan catatan kaki di lembar buku. Ini akan memudahkan kita memaknai maksud dari buku itu.
Keempat, tulislah kebihan dan kekurangan buku
Biasanya yang kita tulis dalam resensi ialah keunggulan, keunikan, dan kelemahan. Supaya gampang, bikin separuhnya yang plus, sebagian lagi yang minus. Persentasenya tak mutlak begitu, bahkan dalam beberapa kali pengalaman, minusnya jauh lebih sedikit. Lantas, apa saja yang bisa ditulis itu? Karanglah soal isi buku, menarik tidaknya, bahasanya gampang dipahami atau malah rumit, pengaturan bab per babnya sudah oke atau belum, font hurufnya enak dibaca atau terlalu kecil. Bisa juga soal konteks isi buku dengan fenomena sekarang, sejauh mana buku ini memberikan pengaruh, dan sebagainya.
Kadang, buku yang diresensi cuma menjadi “cantelan” dari sebuah peristiwa yang sedang hangat dibicarakan. Contoh, kita memiliki gagasan soal isi terorisme, dan kebetulan kita menemukan buku soal itu. Ide kita bisa dikomparasi dengan konten buku. Ini akan mengayakan artikel resensi yang kita tulis.
Kelima, membandingkan dengan buku lain
Supaya bahan tulisan resensi kita makin gurih, kita bisa membandingkan dengan buku lain yang sejenis. Mengomparasikan dua sampai tiga buku akan memberikan gambaran kepada kita dan pembaca soal kedudukan buku itu. Misal buku yang berisi panduan menulis. Kalau kita ada bahan pembanding, akan lebih enak. Bahan tulisan pun semakin banyak. Dan kita bisa langsung menilai apakah buku yang sedang kita resensi itu lebih baik, sama saja, atau lebih buruk.
Mengulas buku kan sudut pandangnya subjektivitas kita. Tak masalah kalau pendapat kita barangkali berlainan ketimbang orang lain. Itulah gunanya membaca keseluruhan isi buku. Kita akan tahu volume buku secara komprehensif.
Keenam, bahas tentang penulis buku
Yang barangkali jarang disinggung penulis resensi ialah tak mendedahkan si penulis buku dalam artikelnya. Padahal, ini juga bagian yang menarik. Bahkan, bisa jadi kalimat awal tulisan resensi kita malah berkenaan dengan penulisnya.
Apakah penulis itu tersohor atau baru mentas, tidak penting. Latar belakang penulisnya tetap saja menarik. Sebab, dialah yang menjadi aktor atas lahirnya sebuah karya intelektual bernama buku. Motivasi sang penulis, suka-duka saat akan menerbitkan, proses kreatif menulis buku adalah menarik untuk ditimbang atau diulas. Kalau ini kita lakukan juga dalam resensi, pembaca resensi bakal mendapat informasi yang kaya.
Ketujuh,berdoa biar resensi buku diterima
Dengan berdoa pasti hasil yang dapat menjadi lebih baik bukan? Keep work :):)

sumber: kompasiana.com